BI dan Pemda di Bali Buka Sinergi Antardaerah Untuk Distribusi Pangan

0
15
Arsip foto - Pelaku UMKM menjual buah lokal di sela pasar murah jelang Galungan di Renon, Denpasar, Minggu (14/6/2026). ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna.

INFODENPASAR, Denpasar – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) dan sejumlah pemerintah daerah di Bali membuka kerja sama antardaerah untuk memastikan kelancaran distribusi pangan mengantisipasi risiko inflasi akibat peralihan musim hujan ke kemarau.

“Kami fasilitasi distribusi pangan dan optimalisasi kerja sama antardaerah melalui Perumda Pangan,” kata Kepala BI Bali Achris Sarwani di Denpasar, Bali, Kamis (02/07/2026).

Ia menyoroti ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau disertai potensi El Nino moderat yang memengaruhi produksi pertanian.

Sehingga, langkah cepat perlu ditempuh antardaerah untuk memastikan kabupaten/kota yang surplus pangan dapat menyuplai ke daerah yang komoditas pangannya terbatas.

Menurut dia, kebutuhan pangan tak hanya untuk memenuhi penduduk Bali, tetapi juga wisatawan baik asing dan domestik mengingat saat ini merupakan periode libur sekolah.

Selain dari sisi distribusi pangan, risiko inflasi juga berasal dari tingginya permintaan barang dan jasa saat musim liburan.

Potensi peningkatan biaya angkutan barang di tingkat global yang memberikan tekanan terhadap harga barang impor, juga perlu diwaspadai memberi risiko inflasi ke depan.

Untuk risiko inflasi dari sektor energi dan kebutuhan pokok, pihaknya bersama pemerintah daerah masih tetap mengandalkan langkah tradisional yaitu pasar murah, pemantauan harga berkala.

Selain itu, upaya lain yang ditempuh di antaranya pengawasan melalui inspeksi distribusi LPG subsidi.

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali secara bulanan pada Juni 2026 inflasi di Pulau Dewata mengalami inflasi sebesar 0,71 persen, lebih tinggi dibandingkan Mei sebesar 0,42 persen.

Inflasi bulanan itu dipengaruhi oleh permintaan barang/jasa akibat perayaan hari besar keagamaan nasional dan penyesuaian tarif bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Sementara itu, inflasi Provinsi Bali secara tahunan meningkat dalam dua tahun terakhir menjadi 3,27 persen.

Kenaikan inflasi itu menjadi lampu kuning karena hampir mendekati target inflasi di Bali yaitu rentang 1,5 hingga 3,5 persen.

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Kelik Dewanto

Kantor Berita ANTARA