INFODENPASAR.id, Jakarta – Dunia fesyen di tiap dekade selalu menciptakan tren dan menjadikannya sebagai sebuah ciri khas di sebuah era. Seperti misalnya overall denim yang populer di tahun 1990-an, hingga skinny jeans yang menjadi favorit di tahun 2010-an.
Menurut perancang busana kondang Musa Widyatmodjo, pada awal dekade ini sudah terlihat kecenderungan akan tren fesyen yang lebih beragam, berani, dan tidak berpatok pada satu hal populer saja.
“Tren fesyen kali ini berbeda dengan dekade sebelumnya. Dulu, ada ‘kesepakatan’ yang terjadi (pada mode). Misalnya sekarang trennya motif bunga-bunga, warnanya cokelat, dan lainnya,” kata Musa saat ditemui ANTARA di Jakarta, Sabtu (18/1/2020).
Lebih lanjut, gebrakan baru yang terbentuk dari “ketidaksepakatan” itu tak lain dibuat sendiri oleh masing-masing orang.
Menurutnya, saat ini masyarakat modern
lebih berani dalam mengekspresikan diri lewat pilihan tampilannya. Didukung
dengan keterbukaan informasi, memungkinkan tiap orang membagi dan mendapatkan
referensi fesyen yang sesuai dengan karakternya.
“Saya melihat banyak konsep yang lebih individual dan berkarakter. Dari
tahun ke tahun, lebih ke perpaduan gaya individual; bagaimana me-mix culture, hingga styling yang colorful, berani, dan
eksperimental,” kata Musa.
Bagi desainer yang telah eksis di dunia mode selama hampir tiga dekade itu,
masyarakat modern memiliki kecenderungan untuk tampil beda dan tidak seragam.
“Ada ekspresi untuk tak menimbulkan keseragaman. Keberagaman itu jadi
tolok ukur nilai masyarakat modern saat ini yang tak mau menjadi sama,”
ujarnya melanjutkan.
Inklusif

Selain berlomba untuk mengekspresikan
diri secara beragam lewat pilihan gaya, Musa melihat bahwa keberagaman yang
terjadi juga hadir di diri individu itu sendiri.
Alih-alih membuat sebuah gaya hanya cocok dikenakan untuk satu tipe badan, atau
hanya pantas bagi gender tertentu, fesyen di 2020-an akan lebih condong ke
inklusivitas – dimana semua berhak tampil dengan percaya diri akan tubuh yang
dimiliki.
“Fesyen bukan cuma skinny
atau badan kurus, tapi juga untuk aneka ragam bentuk tubuh, lebih inklusif.
Model saat ini tak harus cantik dengan rumusan baku di tahun 1980-1990an, tapi
lebih ke personality dan uniqeness,” kata Musa.
“Sekarang ada model yang gemuk, kurus, dengan kulit mulus hingga
belang-belang, semua ada representasinya,” ujarnya melanjutkan.
Adanya representasi dan pencampuran gaya itu pun berpengaruh pada jenis pendekatan
fesyen yang juga semakin beragam. Dari yang mulanya hanya ada gaya dan model
feminim dan maskulin, muncul model androgini hingga gender-less.
“Makin ke sini makin ada percampuran gaya mulai feminim, maskulin,
androgini, hingga sekarang ada pula gender-less;
tidak perempuan atau laki-laki. Itulah tren terbaru dan beda di dunia dulu dan
sekarang,” kata dia.
Menuju Sustainable
Salah satu tren yang digadang-gadang
akan menjadi populer dekade ini adalah adanya “sustainable fashion” yang ramah lingkungan.
Gerakan ini memiliki misi untuk menjadikan industri mode lebih beretika
terhadap lingkungan dari besarnya sampah yang dihasilkan oleh industri mode di
bumi.
Kemudahan membeli pakaian (fast fashion) dan membuang pakaian lainnya yang
sebenarnya masih bisa digunakan bisa dibilang merupakan kontribusi utama dari
limbah mode.
Limbah itu terbentuk lewat penggunaan pewarna kain yang murah yang mengandung
bahan kimia yang berbahaya untuk lingkungan, hingga penggunaan bahan polyester
atau nilon yang terbuat dari bahan yang sulit terurai.

Kendati gerakan ini memiliki tujuan yang baik dalam
menjaga bumi untuk hidup sedikit lebih lama, Musa mengaku masih banyak
tantangan yang harus dilalui agar “sustainable
fashion” benar-benar berdampak.
Desainer yang memulai kiprahnya di dunia fesyen sejak tahun 1991 itu
mengatakan, banyak hal penting yang harus diperhatikan dalam mendukung salah
satu aksi pencegahan pemanasan global itu.
“Masih banyak PR (pekerjaan rumah) untuk sustainable
fashion. Sustainable tak
bisa hanya diartikan secara harafiah, ruang lingkupnya sangat luas,” kata
Musa.
“Ada keberlanjutan di dalamnya, ada tanggung jawab dengan sosial, ekonomi,
bahan baku, dan proses dari proses tak ada, ada, hingga enggak ada
sampahnya,” ujarnya melanjutkan.
Sementara itu, sejumlah selebritas dunia telah memperkenalkan tren tersebut.
Misalnya aktor Joaquin Phoenix yang mengenakan tuksedo lamanya di ajang Golden
Globe 2020, beberapa waktu lalu.
Dengan mengenakan pakaian lama, secara tak sadar sudah berkontribusi dalam
menyelamatkan lingkungan dan generasi di masa mendatang.
Oleh : Arnidhya Nur Zhafira
Editor : Maria Rosari Dwi Putri
Kantor Berita ANTARA
