BGTK Bali Rangkul Fasilitator Daerah SMA/SMK Dalam Menguatkan Pembelajaran STEM

0
11
Dr. I Wayan Surata, S.Pd., M.Pd., Kepala BGTK Bali (Ist)

INFODENPASAR, Denpasar (30/09/2026) – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Bali terus mendorong transformasi pembelajaran melalui pendalaman pemahaman GTK terkait integrasi empat subyek yaitu sains, teknologi, enjinering, dan matematika. Hal tersebut yang mendasari terselenggaranya Pelatihan STEM bagi Fasilitator Daerah Jenjang SMA/SMK yang dilaksanakan pada 30 September sampai 2 Oktober 2026 di BGTK Provinsi Bali. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas fasilitator daerah agar mampu menggerakkan pembelajaran yang lebih kreatif, kritis, kolaboratif, inovatif, dan relevan dengan tantangan kehidupan nyata.

Pada kesempatan tersebut, dalam sambutannya, Dr. I Wayan Surata, S.Pd., M.Pd., Kepala BGTK Bali menyampaikan bahwa  STEM tidak ditempatkan sebagai mata pelajaran baru, tetapi sebagai pendekatan strategis yang mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics dalam proses pembelajaran. Melalui pendekatan ini, murid tidak hanya diarahkan untuk memahami materi, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan, merancang solusi, menghasilkan karya, menguji gagasan, serta melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajarnya.

Pelatihan ini menekankan formula STEM, yaitu THINK + CREATE + SOLVE + REFLECT. Fasilitator daerah didorong untuk memahami bagaimana pembelajaran dimulai dari kemampuan menemukan dan menganalisis masalah, menguji solusi terhadap persoalan nyata, serta merefleksikan dan memperbaiki hasil pembelajaran. Dengan demikian, STEM tidak sekadar berarti mengajarkan lima bidang ilmu secara bersamaan, tetapi menggunakan berbagai cara berpikir untuk menyelesaikan satu persoalan nyata.

Penguatan fasilitator daerah menjadi sangat penting karena mereka diharapkan menjadi penggerak praktik pembelajaran STEAM di sekolah dan daerah masing-masing. Fasilitator tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi mampu mendampingi guru dalam merancang pembelajaran, mempraktikkannya di kelas, merefleksikan hasil, berbagi praktik baik, dan mengembangkan praktik tersebut agar dapat diterapkan secara lebih luas. Pola pengembangan kompetensi tersebut sejalan dengan pendekatan Learn – Practice – Reflect – Share – Scale yang dikembangkan BGTK Bali.

Dalam konteks budaya Bali, penerapan STEAM juga dapat dikembangkan melalui potensi dan persoalan lokal. Subak, arsitektur tradisional Bali, pengelolaan sampah dan lingkungan, seni dan budaya, serta air dan ketahanan lingkungan dapat menjadi sumber belajar yang autentik. Peserta didik dapat diajak mengamati persoalan di lingkungannya, menganalisis penyebabnya, merancang solusi, membuat produk atau karya, kemudian menguji dan memperbaikinya. Dengan cara tersebut, pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan sekaligus tetap mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

BGTK Bali juga menempatkan STEM sebagai salah satu pendekatan yang dapat memperkuat pembelajaran mendalam dan mendukung pengembangan delapan dimensi profil lulusan. Pembelajaran diarahkan agar murid semakin mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, berkomunikasi, mandiri, serta menghasilkan solusi yang relevan dengan kehidupan nyata.

Karena itu, keberhasilan pelatihan STEM tidak hanya dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan. Yang lebih penting adalah bagaimana kompetensi tersebut diterapkan dan memberikan perubahan pada pembelajaran di sekolah. BGTK Bali mengarahkan pengukuran keberhasilan mulai dari peningkatan kompetensi guru, kualitas pembelajaran yang lebih aktif dan kontekstual, perkembangan kemampuan peserta didik, hingga tumbuhnya ekosistem kolaborasi dan komunitas belajar di sekolah.

Melalui Pelatihan STEM bagi Fasilitator Daerah Jenjang SMA/SMK ini, BGTK Bali menegaskan bahwa STEAM harus bergerak dari konsep menjadi praktik, dari pelatihan menjadi ekosistem, dan dari kegiatan menjadi dampak nyata di sekolah.

 “Kita tidak sedang menyiapkan anak untuk menjawab soal hari ini. Kita sedang menyiapkan mereka untuk memecahkan persoalan yang belum pernah kita hadapi”, pesan Surata sebelum membuka kegiatan secara resmi.

STEM untuk pembelajaran mendalam, menuju Bali yang Future-Ready Education. (Ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here