
INFODENPASAR, Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menyoroti risiko penyebaran informasi yang tidak utuh di media sosial karena dapat membentuk persepsi publik berbeda dari konteks kejadian sebenarnya, termasuk terhadap kebijakan pemerintah dan citra pariwisata Bali.
“Kalau sudah mendunia dia itu, waduh, mau dikasih lengkap videonya, ya keburu juga, sudah terlanjur. Kesannya sudah muncul duluan, persepsinya sudah muncul begini, begitu,” kata Koster saat peluncuran buku Kompas Moral Wartawan karya Emanuel Dewata Oja di Denpasar, Rabu (28/10/2026).
Koster mencontohkan pengalamannya ketika meninjau persoalan operasional stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di tengah situasi distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Bali.
Ia menjelaskan saat itu dirinya sedang berbicara dengan pimpinan SPBU mengenai kebijakan operasional selama 24 jam.
Namun, potongan video dari kejadian tersebut kemudian menimbulkan kesan seolah-olah dirinya sedang memarahi petugas.
Koster mengakui reaksinya dalam kejadian itu kurang tepat. Namun, ia menilai potongan rekaman tanpa konteks lengkap dapat memengaruhi penilaian masyarakat terhadap suatu peristiwa.
“Saya balik, salahnya saya, saya bereaksi. Harusnya saya, jangan marah-marah,” ujarnya.
Menurut Koster, penyampaian informasi secara utuh penting agar masyarakat dapat memahami persoalan berdasarkan konteks, bukan hanya dari potongan video yang beredar.
Ia juga menyinggung perkembangan media sosial yang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat, sementara klarifikasi sering kali tidak mampu menjangkau publik dengan kecepatan yang sama.
Koster menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama, baik bagi pemerintah maupun insan pers, agar percakapan publik mengenai berbagai persoalan di Bali berlangsung secara sehat dan proporsional.
Ia menegaskan Bali merupakan destinasi yang mendapat perhatian internasional. Karena itu, informasi mengenai kondisi keamanan, kenyamanan, dan berbagai persoalan di Pulau Dewata dapat memengaruhi persepsi masyarakat luas, termasuk calon wisatawan.
“Bali adalah menjadi pusat perhatiannya dunia. Pulau kecil yang wilayahnya 5.590 kilometer persegi, jumlah penduduknya 4,4 juta. Tapi, Bali ini menjadi pusat perhatian dunia,” katanya.
Koster mengatakan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab menjaga kondisi Bali tetap kondusif.
Ia menyebut kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali ketika itu berada pada kisaran 19.000 hingga 24.000 orang per hari.
Menurut Koster, angka tersebut menunjukkan arus kunjungan wisatawan masih terjaga di tengah berbagai dinamika yang terjadi.
Koster juga mengaitkan kondisi pariwisata dengan aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari tingkat hunian hotel, kunjungan ke restoran, perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga kegiatan usaha perjalanan wisata.
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor : Ardi Irawan
Kantor Berita ANTARA
