INFODENPASAR, Denpasar (21/09/2026) — Perubahan dan transformasi pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Di balik terselenggaranya layanan pendidikan yang efektif, terdapat tenaga kependidikan yang bekerja memastikan data sekolah akurat, administrasi berjalan tertib, dan pengelolaan keuangan dapat dipertanggungjawabkan. Pesan tersebut disampaikan Dr. I Wayan Surata, S.Pd., M.Pd., Kepala BGTK Provinsi Bali, dalam Pelatihan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kependidikan Angkatan 3 di BGTK Bali. Dalam paparannya, Dr. I Wayan Surata, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa tenaga kependidikan tidak seharusnya lagi dipandang hanya sebagai pelaksana pekerjaan administratif. Seiring dengan tuntutan transformasi pendidikan, mereka memiliki posisi strategis dalam membangun tata kelola sekolah yang profesional, digital, dan transformatif. “Tenaga kependidikan bukan sekadar pendukung administrasi, tetapi bagian strategis dalam mewujudkan layanan pendidikan yang bermutu.”
Menurutnya, perubahan tersebut perlu dimulai dari cara pandang terhadap tugas operator dan bendahara sekolah. Operator tidak cukup hanya mampu melakukan input data. Data yang dikelola harus akurat, valid, terintegrasi, mutakhir, dan dapat dipercaya, sehingga dapat menjadi dasar bagi layanan dan pengambilan keputusan di sekolah. “Kita tidak sedang melatih operator untuk sekadar menginput data. Kita sedang membangun operator yang mampu memastikan data sekolah akurat, terintegrasi, dan mendukung layanan serta keputusan sekolah,” jelasnya.

Hal yang sama juga berlaku bagi bendahara sekolah. Pengelolaan keuangan tidak berhenti pada kegiatan mencatat dan membuat laporan. Bendahara dituntut mampu mengelola administrasi keuangan secara tertib, transparan, akuntabel, serta mendukung pelaksanaan program sekolah. “Bendahara bukan sekadar mengurus uang dan membuat laporan. Bendahara merupakan bagian penting dari tata kelola sekolah yang memastikan sumber daya dikelola secara tertib dan digunakan untuk mendukung layanan terbaik bagi murid,” ujarnya.
Diklat Harus Menghasilkan Perubahan Dalam kesempatan tersebut, Dr. I Wayan Surata juga menyoroti pentingnya perubahan pendekatan dalam pengembangan kompetensi tenaga kependidikan. Pelatihan, menurutnya, tidak boleh berhenti pada pola “duduk, dengar, catat”. Pembelajaran perlu membawa peserta pada pengalaman nyata melalui belajar mandiri, pembelajaran klasikal, studi lapangan, refleksi dan kolaborasi, hingga proyek transformasi.
Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melihat praktik nyata, merefleksikan pengalaman, berkolaborasi, dan merancang solusi sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan. “Ukuran keberhasilan diklat bukan hanya apakah peserta telah mengikuti pelatihan, tetapi apakah setelah kembali ke sekolah ada praktik yang berubah dan ada perbaikan yang benar-benar dirasakan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengembangan kompetensi tenaga kependidikan harus diarahkan untuk melahirkan sosok yang profesional, adaptif, inovatif, dan transformatif. Dari Data dan Keuangan Menuju Layanan Pendidikan Dalam paparannya juga digambarkan hubungan yang erat antara peran operator, bendahara, dan kepala sekolah. Operator menjaga kebenaran data. Bendahara menjaga tertibnya keuangan. Kepala sekolah menggerakkan perubahan. Ketiganya memiliki peran yang berbeda, tetapi berada dalam satu ekosistem tata kelola sekolah. Data yang akurat mendukung keputusan yang tepat. Pengelolaan keuangan yang tertib mendukung pelaksanaan program. Administrasi yang profesional membantu sekolah memberikan layanan secara lebih efektif. Karena itu, transformasi tenaga kependidikan pada akhirnya bukan tentang memperbanyak administrasi, melainkan bagaimana administrasi, data, dan pengelolaan sumber daya dapat menghasilkan dampak nyata bagi sekolah dan peserta didik.
Menutup paparannya, Dr. I Wayan Surata, S.Pd., M.Pd., mengingatkan bahwa arah pengembangan kompetensi tenaga kependidikan harus selalu kembali kepada tujuan utama pendidikan. “Kita sedang membangun tenaga kependidikan yang mampu bekerja profesional, adaptif, inovatif, dan menjadi bagian dari transformasi sekolah. Karena pada akhirnya, semuanya bermuara pada satu hal: layanan pendidikan yang lebih baik bagi murid.”
Pelatihan Pengembangan Kompetensi Tenaga Kependidikan Angkatan 3 di BGTK Bali menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas tenaga kependidikan agar mampu menghadapi tuntutan tata kelola sekolah yang semakin kompleks dan berbasis data. Dari data yang benar, lahir keputusan yang lebih tepat. Dari keuangan yang akuntabel, lahir tata kelola yang lebih kuat. Dan dari tenaga kependidikan yang profesional, tumbuh layanan pendidikan yang semakin bermutu. Bersama, kita wujudkan pendidikan bermutu untuk semua. (Ist)

