Covid-19 Masih Merajalela: Waspada Meledaknya Kasus Klaster Keluarga Pasca Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali

0
137
dr. Putu Aryani, MIH (kiri) dan Dr.dr. I Wayan Gede Artawan Eka P, MEpid.

Oleh : dr. Putu Aryani, MIH.1,2  dan Dr.dr. I Wayan Gede Artawan Eka P, MEpid1

Sebulan sejak dibukanya kembali aktivitas public di Bali, termasuk pembukaan kegiatan pariwisata domestic, penambahan kasus COVID-19 tak dapat terelakkan. Jumlah kasus yang dilaporkan Sampai 12 September 2020 adalah 7226 orang dengan 174 (2,4%) diantaranya meninggal. Peningkatan jumlah kasus dan kematian pada awal September ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya dengan rerata sebesar 161 kasus per hari sedangkan Agustus rerata 60 kasus per hari. Saat ini Bali menempati urutan ke-8 untuk jumlah kasus komulatif COVID-19 dan tingkat penularan tergolong tinggi, dengan angka reproduksi 1,2 atau ke-4 di Indonesia.

Bila dilihat lagi secara rinci, jumlah kasus yang dilaporkan saat ini adalah kasus yang diketahui dari munculnya gejala ringan-sedang-berat yang memeriksakan diri ke Puskesmas, Klinik maupun rumah sakit. Artinya, jumlah kasus tersebut menunjukkan di masyarakat penyebaran infeksi Covid-19 lebih besar lagi. Akan tetapi data ini tidak kita ketahui mengingat melonggarnya kebijakan pemerintah untuk melakukan skrining atau tes secara aktif berdasarkan kontak langsung dengan penderita Covid-19.

 Penurunan kapasitas skrining ini terjadi dengan dalih terbatasnya anggaran, jumlah alat dan reagen untuk pemeriksaan swab PCR (polymerase chain reaction-diagnosis terbaik saat ini), pro kontra efektivitas penggunaan rapid test dan sumber daya manusia kesehatan yang mulai kelelahan melakukan tracing maupun perawatan pasien. Sebagai dampaknya, kita hadapi saat ini begitu banyak kasus yang tidak terdeteksi dan penyebarannya yang tak terkendali lagi, sehingga banyak orang yang sakit baru datang ke fasilitas kesehatan saat kondisinya sudah memburuk dan tak terselamatkan lagi.

Pengurangan ketersediaan jumlah fasilitas karantina yang dipantau tenaga kesehatan juga ikut andil dalam peningkatan penyebaran kasus Covid-19. Saat ini tidak ada lagi tempat karantina mandiri bagi orang yang positif Covid-19 dengan gejala ringan. Mereka diminta melakukan karantina mandiri di rumah. Meskipun terkadang ada pemantauan harian dari puskesmas terdekat, namun hal ini kurang efektif dibandingkan dengan mengkarantina mereka di tempat khusus.

Karantina mandiri belum tentu benar- benar dilakukan oleh semua orang, terlebih lagi apabila gejala yang dirasakan ringan. Terlebih lagi bagi masyarakat yang tidak memiliki penghasilan tetap, ketika diminta melakukan karantina mandiri, belum tentu mereka memiliki cukup uang untuk makan keluarganya. Sehingga mereka terpaksa bekerja dalam kondisi memiliki virus Covid-19. Apabila ditambah lagi dengan perilaku protocol kesehatan yang buruk, hal inilah yang menimbulkan penyebaran Covid-19 di banyak instansi dan ujung-ujungnya ke klaster keluarga.

Di sisi lain, beberapa bulan sebelum hari raya galungan dikenal sebagai “Dewasa Ayu” untuk berbagai upacara adat seperti Upacara Manusa Yadnya (perkawinan dan metatah), Upacara Pitra Yadnya (Ngaben), bahkan sangat banyak juga upacara Dewa Yadnya seperti Piodalan di Pura-Pura di berbagai wilayah di Bali. Dengan dilonggarkannya pembatasan kegiatan masyarakat ini, meskipun dengan anjuran penerapan protocol kesehatan, tak bisa dielakkan banyak masyarakat yang lalai.

Banyak yang merasa pembukaan kegiatan massa yang dijargonkan sebagai “New Normal” dianggap kehidupan yang normal di masa yang baru. Akibatnya banyak masyarakat lalai menggunakan masker, lupa bahwa harus menjaga jarak fisik atau malah karena terlalu banyak orang dalam upacara, sehingga tidak memungkinkan menjaga jarak satu sama lain. Apa lagi cuci tangan, bisa dipastikan banyak juga yang tak ingat lagi.

Dengan budaya orang Bali yang merasa lebih malu kalau tidak datang, ketimbang memikirkan kesehatan keluarga dan orang lain, mungkin ada banyak juga orang yang sebenarnya sudah memiliki keluhan flu dan pilek tetap datang ke upacara-upacara tersebut.

Hal inilah yang menjerumuskan kita pada peningkatan jumlah kasus yang tak terkendali saat ini. Dengan adanya upacara Galungan dan Kuningan beberapa hari ke depan, peluang peningkatan kasus positif akan lebih banyak lagi.

Di hari raya Galungan, seluruh masyarakat Bali akan pulang ke kampung halaman dan bersembahyang ke beberapa pura di wilayahnya Mereka akan bertemu dengan sanak saudara keluarga besar dan diantaranya adalah para lansia dan penderita penyakit kronis. Hal ini akan membuat penyebaran virus makin massive lagi, sehingga dapat dipastikan dalam 2 minggu setelah hari raya akan terjadi peningkatan kasus lebih besar lagi dari sekarang. Tak dapat dibayangkan bagaimana rumah sakit akan melayani mereka jika mereka jatuh sakit dalam waktu bersamaan.

Terlebih lagi terdapat beberapa kelompok masyarakat baik yang berpendidikan maupun yang tidak, yang mempercayai teori konspirasi. Teori yang menganggap Covid-19 ini adalah rekayasa badan kesehatan Internasional dan Pemerintah kita. Teori ini lebih menyesatkan lagi karena menuduh Dokter dan tenaga kesehatan lain juga melakukan pemalsuan data dengan melaporkan semua gejala yang ditemukan sebagai Covid-19, demi memperoleh banyak insentif dan gelontoran dana lainnya dari pemerintah pusat.

Hal ini berdampak signifikan pada perilaku masyarakat terutama kelompok pemuda dan pemudi. Mereka tak mau lagi mematuhi memakai masker, tidak perduli lagi dengan himbauan jaga jarak, sebaliknya mereka kembali melakukan kegiatan nongkrong dan kumpul-kumpul seperti biasanya. Mereka merasa sehat dan tidak sakit, namun tak menyadari diantara mereka banyak yang membawa virus itu ke rumah, menginfeksi keluarga besarnya, terutama para lansia dan orang yang memiliki penyakit kronis sebelumnya. Virus ini memang bisa dikalahkan oleh kekebalan tubuh yang sehat dan prima pada usia muda, namun tidak demikian bagi yang memiliki imunitas rendah. Hal ini terbukti dari mulai meningkatnya kasus pada kelompok lansia, penderita diabetes mellitus, hipertensi, kanker, penderita gangguan ginjal, penderita HIV dan Tuberkulosis, dan sebagainya.

Memang benar kematiannya bukan karena Covid-19 semata, tapi karena penyakit kronis yang diderita memburuk akibat Covid-19 ini. Bisa dibayangkan jika seandainya tak terinfeksi Covid-19, seharusnya mereka yang memiliki penyakit kronis masih bisa hidup dan produktif minimal untuk 5-10 tahun ke depan. Begitu banyak kematian sia sia yang sudah kita saksikan akibat Covid-19 ini.

Lantas. apakah kita semua sudah terlambat dan diujung kehancuran generasi Bali?

Ya.. jika kita tidak berbuat apa apa dan tetap mempertahankan persepsi dan perilaku yang salah, tidak bisa dielakkan lagi pemandangan kolapsnya fasilitas kesehatan seperti di Italia, Amerika dan negara besar lainnya di Dunia. Namun, jika kita mau berubah dan mulai ikut berbuat benar, maka setidaknya kita masih bisa menyelamatkan orang-orang yang kita cintai dari maut yang berbentuk Covid-19 ini.

Apa yang bisa dilakukan untuk menurunkan jumlah kasus dan memusnahkan virus ini?

Sebagai masyarakat, kita harus kembali menerapkan kebiasaan protokol kesehatan yang benar. Pakailah masker saat keluar rumah, pakai dengan benar menutupi seluruh area hidung, mulut hingga dagu. Tetap pakai masker anda saat berbicara dengan orang lain dan jangan menurunkannya ke dagu. Karena saat berbicaralah virus itu keluar dari mulut atau hidung kita. Anggap bahwa kita dan juga teman kita membawa virus itu secara tak sengaja.

Ingatlah selalu jaga jarak fisik saat di tempat umum, di kantor, di pasar, di manapun. Hal yang juga sangatlah penting ingatlah cuci tangan setelah menyentuh benda-benda yang dijamah banyak orang, seperti gagang pintu, ralling tangga, saat ke atm, ke pasar, pertokoan dan lain lain. Jika tidak ada fasilitas cuci tangan, pakailah hand sanitizer atau tissue basah berbahan alcohol 60%.

Sebaiknya bekerja dari rumah saja jika masih memungkinkan, namun jika tidak, tetap terapkan protokol kesehatan. Keluarlah hanya disaat sangat diperlukan. Saat ini banyak fasilitas belanja online, manfaatkan jasa tersebut jika memang memungkinkan untuk menghindari terlalu banyak kontak dengan orang lain.

Hal terpenting, menyambut hari raya Galungan, mengingat kita masih dalam masa pandemi, upayakan melakukan persembahyangan di rumah saja, karena Sang Hyang Widhi ada di mana mana, beliau maha tahu dan bisa kita sembah dari manapun. Yang terpenting dari sebuah yadnya adalah persembahan yang tulus, bukan berapa banyak atau dari mana kita ber-yadnya.

Kepada pemerintah, sebaiknya kegiatan skrining dikembalikan lagi seperti pada awal masa pandemi dan  pelaksanaan contact tracing ditingkatkan pada semua kontak baik kontak serumah maupun kontak erat di tempat kerja dan tertutup lannya. Apabila SDM yang ada tidak mampu melakukan, kemungkinan merekrut relawan dari institusi pendidikan kesehatan dapat menjadi opsi yang bisa membantu contact tracing.

Berikutnya, tinjauan kebijakan mengenai karantina mandiri harus segera dilakukan, dan solusi terbaik saat ini adalah mengembalikan penyediaan pusat-pusat karantina yang diawasi ketat oleh tenaga kesehatan maupun relawan. Kegiatan masyarakat yang bersifat produktif agar benar-benar memperhatikan protokol kesehatan. Melarang atau membatasi kegiatan yang tidak perlu atau kegiatan dengan daya ungkit ekonomi yang rendah, misalnya pesta, hiburan malam dll. Tinjauan terhadap syarat orang memasuki pulau bali juga harus dilakukan. Perketat skrining dan pemeriksaan di pelabuhan, bandara maupun tempat-tempat wisata di Bali.

Terakhir, dengan merebaknya kasus yang memerlukan perawatan rumah sakit, diperlukan keputusan segera untuk menambah kapasitas hunian rumah sakit untuk pasien Covid-19. Jika tidak, maka pasien lain lah yang akan menjadi korbannya. Akhir kata, semoga kita dapat melewati wabah ini tanpa ada penyesalan begitu besar karena kehilangan banyak orang yang kita cintai.

1Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

2Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia