Pemerintah Berencana Menghentikan Impor Avtur Mulai 2027

0
10
Presiden Prabowo Subianto (keempat kiri) didampingi Mensesneg Prasetyo Hadi (kanan), Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (kedua kanan), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (ketiga kiri), Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri (ketiga kanan), Komisaris Utama PT Pertamina Mochamad Iriawan (kiri) dan Ketua BPK Isma Yatun (kedua kiri) menekan tombol saat meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit (RU) V Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). ANTARA/Putu Indah Savitri/aa.

INFODENPASAR, Balikpapan – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah berencana menghentikan impor avtur mulai 2027, dan hanya mengimpor minyak mentahnya.

“Avtur juga 2027, insya Allah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan, kami akan dorong atas perintah Pak Presiden, kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja,” ujar Bahlil dalam peresmian proyek RDMP Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin (12/01/2026).

Dengan demikian, Indonesia perlahan-lahan mulai merealisasikan ambisi untuk swasembada energi atau tidak lagi bergantung terhadap impor.

Bahlil juga telah mengumumkan bahwa Indonesia berhenti mengimpor solar pada 2026, utamanya untuk solar jenis CN48.

Untuk mengurangi impor solar jenis CN51, Bahlil memerintahkan Pertamina mulai membangun fasilitasnya pada semester II 2026.

“Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis dan setelah ini pasti ramai di media sosial karena dianggap Menteri ESDM potong-potong jalur para importir,” ucapnya.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam peresmian proyek RDMP (refinery development master plan) atau revitalisasi Kilang Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Proyek RDMP Balikpapan ini memiliki nilai investasi sekitar 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp124,79 triliun (kurs Rp16.864).

Melalui pembangunan RDMP, kapasitas produksi BBM meningkat dari sebelumnya 260 ribu barel per hari (KBPD) menjadi 360 KBPD setara Euro V.

Selain itu, proyek ini menaikkan Indeks Kompleksitas Kilang dari 3,7 menjadi 8, dan persentase nilai produk meningkat menjadi 91,8 persen dari sebelumnya 75,3 persen.

Pengembangan kilang Balikpapan menjadi langkah penting untuk mewujudkan swasembada energi sesuai program Astacita, sehingga Indonesia tidak lagi mengandalkan impor bahan bakar minyak (BBM) dan Liqufied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan dalam negeri.

“Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, maka kita dapat mengurangi ketergantungan impor BBM dan LPG, serta dapat menghasilkan produk dengan kualitas setara EURO V yang tentunya lebih ramah lingkungan,” ujar Bahlil.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Agus Salim

Kantor Berita ANTARA