PHRI Minta Pemerintah Waspadai Oknum Jual Beli Properti di Bali

0
16
Ketua PHRI Bali Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati bahas fenomena penjualan hotel oleh industri akomodasi, di Badung, Bali, Rabu (23/9/2026). ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari

INFODENPASAR, Badung – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali meminta pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk mewaspadai dan mengantisipasi maraknya oknum spekulan properti, di tengah fenomena penjualan hotel yang terjadi di Bali belakangan ini.

“Sebab kami khawatir yang masuk adalah orang-orang yang bergerak di bidang jual beli properti, jadi dia masuk, dia perbaiki sedikit, kemudian dijual lagi seperti itu ya,” kata Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau akrab disapa Cok Ace.

Cok Ace di sela The 6th Global Conference on Entrepreneurship and Economy in an Era of Uncertainty (EEEU), di Kabupaten Badung, Rabu (23/09/2026), menjelaskan fenomena penjualan hotel di Bali bukanlah persoalan baru.

Namun, peningkatan jumlah pengusaha yang ingin melepas asetnya akhir-akhir ini, tidak terlepas dari tekanan geopolitik global serta berkurangnya daya beli konsumen, termasuk pasar wisatawan domestik.

Faktor fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat juga memberikan beban tambahan bagi sebagian pelaku usaha yang memiliki pinjaman perbankan dalam denominasi mata uang asing, sehingga menjual hotel menjadi salah satu strategi bertahan yang ditempuh pengusaha akomodasi.

Namun, di tengah kondisi tersebut, PHRI Bali melihat minat investor dan operator perhotelan dunia untuk masuk ke Bali terpantau masih sangat tinggi.

Meski demikian PHRI Bali mengapresiasi langkah pemerintah yang kini memperketat perizinan untuk menyaring investor agar benar-benar berasal dari kalangan pelaku industri pariwisata profesional, bukan sekadar pemain properti jangka pendek.

Dari catatannya, Cok Ace melihat fenomena penjualan hotel saat ini cukup merata di hampir seluruh kawasan pariwisata Bali kecuali Sanur yang masih relatif mampu bertahan di tengah dinamika pasar.

Untuk menekan kondisi ini, mantan Wagub Bali itu menyarankan pelaku industri akomodasi agar mengemas produknya dengan menarik.

Ia meyakini selain atraksi dan aksesibilitas, akomodasi sebagai amenitas tetap menjadi salah satu faktor penentu utama kedatangan wisatawan.

Tetapi selain itu, pelaku pariwisata juga diyakini tidak mungkin bisa berjalan sendiri tanpa dukungan infrastruktur serta penanganan isu penunjang yang komprehensif dari pemerintah dan masyarakat.

“Sebaik apa pun produk yang kami buat, yang kami siapkan, tapi kalau lingkungan pendukung yang lainnya juga tidak mendukung seperti infrastruktur, kemacetan, sampah, tentu tidak ada artinya usaha kami untuk meningkatkan kualitas produk, jadi ini harus serentak semua baik pemerintah, masyarakat bersama-sama menjaga aset kita ini,” ujar Cok Ace pula.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

Kantor Berita ANTARA