
INFODENPASAR, Denpasar – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mengintensifkan pendataan dan verifikasi lapangan untuk memastikan penanganan dampak cuaca ekstrem di kabupaten/kota berjalan optimal.
“Data awal yang masuk biasanya masih berkembang, karena petugas perlu melakukan pengecekan di lapangan untuk memastikan kondisi korban, kerusakan, maupun gangguan akses,” kata Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Bali I Wayan Suryawan di Denpasar, Senin (02/11/2026).
Ia menjelaskan proses pendataan kebencanaan dilakukan secara dinamis dan berjenjang mengikuti hasil penelusuran tim di setiap kabupaten/kota.
Laporan situasi awal sejak Minggu (1/11) pukul 21.00 WITA hingga Senin pukul 15.00 WITA tercatat 54 titik kejadian, namun hasil pemutakhiran data terkini menunjukkan penyesuaian menjadi 64 titik terdampak bencana alam di seluruh Bali.
“Karena itu data yang kami sampaikan saat ini masih dapat berubah seiring hasil verifikasi dan perkembangan penanganan,” ujar Suryawan.
Berdasarkan pemutakhiran data BPBD Bali, Kabupaten Gianyar mencatatkan 15 titik kejadian yang didominasi oleh delapan lokasi tanah longsor, empat pohon tumbang, satu jalan jebol, satu tembok roboh, serta satu bangunan balai pertemuan roboh di Pura Taman Kelod Kedisan.
Kabupaten Karangasem tercatat sebanyak 12 titik, meliputi enam kejadian pohon tumbang, empat tanah longsor, satu tembok jebol, dan satu tugu persembahyangan roboh di Desa Tenganan.
Selanjutnya di Kabupaten Bangli terdata 11 titik kejadian, mencakup enam tanah longsor, empat pohon tumbang, serta satu akses jalan putus di Banjar Pulesari Kawan.
Pendataan di Kabupaten Klungkung mencatat penyesuaian signifikan menjadi 10 titik terdampak, terdiri atas tujuh pohon tumbang, satu tanah longsor, satu jalan jebol, dan satu titik banjir.
Sementara di Kabupaten Badung terverifikasi enam titik bencana, meliputi tiga tanah longsor, satu jalan jebol, satu tembok roboh, dan satu pohon tumbang.
Untuk wilayah Badung, petugas penanggulangan bencana fokus melakukan penanganan intensif terkait pencarian dua korban hilang akibat tanah longsor saat cuaca ekstrem Minggu malam di kawasan objek glamping Desa Pelaga, Kecamatan Petang.
Di Kabupaten Buleleng, hasil verifikasi lapangan BPBD Bali mencatat lima titik kejadian berupa sandaran jebol, tanah longsor, jalan jebol, serta dua bangunan roboh di Kecamatan Gerokgak.
Adapun Kabupaten Tabanan kini tercatat memiliki lima titik terdampak cuaca ekstrem, yang terdiri atas empat kejadian tanah longsor dan satu lokasi pohon tumbang.
Suryawan menegaskan seluruh personel BPBD bersama instansi terkait di tingkat kabupaten dan kota telah dikerahkan ke lapangan untuk merespons setiap laporan secara cepat.
“Sejak kejadian dilaporkan, BPBD bersama jejaring di kabupaten/kota sudah melakukan upaya penanganan di lapangan sesuai kondisi dan tingkat urgensinya,” kata Suryawan.
Ia menambahkan sinergi antarwilayah menjadi kunci dalam menjaga kelancaran distribusi bantuan maupun pemulihan infrastruktur publik yang terganggu.
“Mekanismenya memang berjenjang, penanganan awal dilakukan di kabupaten/kota bersama unsur terkait, sedangkan BPBD Bali memantau perkembangan, melakukan koordinasi, dan memberikan dukungan apabila diperlukan,” tuturnya.
Pola penanganan secara bertahap terus disesuaikan dengan skala prioritas keselamatan warga di masing-masing wilayah terdampak.
“Karena kejadian terjadi di beberapa wilayah dan waktunya hampir bersamaan, penanganannya dilakukan secara bertahap dengan melihat prioritas dan kemampuan yang tersedia di masing-masing daerah,” tutur Suryawan.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
Kantor Berita ANTARA
