
INFODENPASAR, Denpasar – Badan Pusat Statistik (BPS) Bali memproyeksikan produksi padi di Provinsi Bali meningkat 0,66 persen dari 587,87 ribu ton gabah kering giling (GKG) pada 2025 menjadi 591,72 ribu ton sepanjang 2026.
“Jadi angka sementara untuk produksi padi itu meningkat, namun namanya angka sementara, angka tetapnya nanti bisa jadi tidak sama atau mengalami penurunan,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Senin (02/11/2026).
Agus Gede menjelaskan bahwa angka keseluruhan 2026 tersebut masih bersifat sementara karena potensi luas panen Oktober–Desember masih memakai amatan Kerangka Sampel Area (KSA) September 2026.
Secara akumulasi, luas panen padi Bali sepanjang 2026 justru diperkirakan turun 0,74 persen menjadi 95,73 ribu hektar, setelah sempat menyusut di subround II akibat kemarau panjang.
Meski luas panen diprediksi menurun, proyeksi angka produksi padi tercatat naik karena perhitungan produktivitas subround III masih menggunakan rata-rata ubinan tiga tahun terakhir (2023–2025).
“Secara statistik kita anggap angka produktivitas itu sama dengan subround yang sama di tahun-tahun sebelumnya, kita ambil tiga tahun yaitu 2023, 2024, 2025 dan dirata-ratakan untuk dipakai menghitung angka tadi,” ujar Agus Gede.
Lebih rinci, produksi padi Bali pada subround I (Januari–April 2026) meningkat 6,06 ribu ton GKG (3,67 persen), lalu turun 19,51 ribu ton GKG (8,73 persen) pada subround II (Mei–Agustus) akibat kemarau, dan diproyeksikan kembali naik 17,31 ribu ton GKG (8,68 persen) pada subround III (September–Desember).
Jika menggunakan proyeksi gabah BPS Bali, maka produksi beras Bali secara total tahun 2026 diperkirakan mencapai 333,71 ribu ton, bertambah 2,17 ribu ton dari 331,54 ribu ton pada tahun sebelumnya.
Agus Gede menegaskan fenomena kemarau yang lebih panjang serta keterlambatan musim hujan bisa saja mempengaruhi proyeksi mereka pada produktivitas riil di akhir tahun.
“Kenapa ada kemungkinan turun, karena curah hujan tidak sebagus tahun sebelumnya, kita baru sekarang merasakan hujan dan musim kemaraunya jauh lebih panjang, jadi masih ada kemungkinan produktivitas angka tetapnya tidak setinggi yang tadi saya sampaikan,” kata Agus Gede.
Ia menyampaikan selain tantangan cuaca, sektor pertanian Bali dibayangi penyusutan luas lahan baku sawah sebesar 9,19 persen dibanding 2019, menjadi 64.474 hektar berdasarkan SK Menteri ATR/BPN 2024.
Penurunan luas lahan sawah di Bali ini tercatat sebagai yang tertinggi kesembilan di Indonesia berdasarkan pemetaan citra satelit dan verifikasi lapangan BPS, BIG, serta ATR/BPN.
BPS Bali saat ini masih menggunakan pendataan lahan baku sawah 2024 yang dievaluasi berkala oleh kementerian terkait, sehingga belum ada tanda-tanda peningkatan luas lahan sawah sebagaimana arahan Gubernur Bali kepada bupati/wali kota sebelumnya.
“Ini masih data 2024, nanti ketika ada penetapan yang baru saya tidak tahu apakah ada kemungkinan dia turun lagi,” kata Agus Gede.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
Kantor Berita ANTARA
